Denpasar – Suasana di Kecamatan Denpasar Timur semakin meriah pada hari kedua penilaian lomba ogoh-ogoh yang digelar pada Sabtu (15/3). Sebanyak 74 ogoh-ogoh dari berbagai banjar di wilayah tersebut turut serta dalam kompetisi tahunan yang menjadi bagian dari tradisi menyambut Hari Raya Nyepi.
Sejak sore hari, warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan keindahan dan keunikan setiap ogoh-ogoh yang dipamerkan. Para peserta menampilkan karya terbaik mereka dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menggambarkan sosok-sosok dalam mitologi Hindu maupun interpretasi kreativitas modern.
Ketua Panitia Lomba Ogoh-Ogoh Kecamatan Denpasar Timur menyampaikan bahwa penilaian dilakukan oleh tim juri yang terdiri dari seniman dan budayawan. “Kami menilai berdasarkan aspek seni, kreativitas, dan makna filosofis yang terkandung dalam setiap ogoh-ogoh,” ujarnya.
Antusiasme peserta dan masyarakat terlihat sangat tinggi. Setiap banjar tidak hanya menghadirkan ogoh-ogoh dengan desain yang spektakuler, tetapi juga menyertakan atraksi seni dan iringan musik baleganjur yang semakin menghidupkan suasana. Beberapa ogoh-ogoh bahkan memiliki mekanisme gerak yang membuatnya semakin menarik dan tampak hidup.
Salah satu peserta dari Banjar Yangbatu Kangin mengungkapkan rasa bangganya bisa ikut serta dalam kompetisi ini. “Kami sudah mempersiapkan ogoh-ogoh ini selama lebih dari dua bulan. Ini bukan hanya soal lomba, tetapi juga ajang memperkuat kebersamaan warga,” katanya.
Selain menjadi ajang kreativitas, lomba ini juga bertujuan untuk melestarikan budaya Bali dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk terus mencintai tradisi mereka. Pemerintah Kota Denpasar pun turut mendukung penuh acara ini sebagai bagian dari kalender budaya tahunan.
Penilaian akan berlanjut hingga seluruh kecamatan di Denpasar selesai mengikuti proses seleksi. Nantinya, ogoh-ogoh terbaik akan mendapatkan penghargaan khusus dan berkesempatan untuk tampil dalam parade tingkat kota.
Dengan kemeriahan dan semangat gotong royong yang ditampilkan, lomba ogoh-ogoh tahun ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wujud nyata dari kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.
Sumber: instagram – @infodenpasar







