WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (9/4) mengumumkan penangguhan pemberlakuan tarif baru terhadap lebih dari 75 negara selama 90 hari. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah diplomatis untuk memberi waktu negosiasi menyusul ketegangan perdagangan global yang tengah berlangsung.
Langkah ini diambil setelah sejumlah negara menyampaikan kekhawatiran dan menghubungi Amerika Serikat untuk membahas hambatan perdagangan, manipulasi mata uang, hingga pengenaan tarif non-moneter yang dinilai tidak adil.
Trump menuturkan bahwa keputusan untuk memberikan penangguhan diambil karena negara-negara tersebut menunjukkan itikad baik dan tidak melakukan tindakan balasan terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
“Saya telah mengesahkan PAUSE selama 90 hari dan menetapkan tarif timbal balik yang jauh lebih rendah, sebesar 10 persen, yang juga berlaku segera,” ujar Trump dalam pernyataan resminya.
Sebelumnya, tarif yang direncanakan untuk diberlakukan bisa melampaui batas dasar 10 persen, bahkan dalam beberapa kasus mencapai angka jauh lebih tinggi. Namun, penangguhan ini memberi kelonggaran bagi negara mitra dagang untuk menghindari beban ekonomi tambahan dalam waktu dekat.
Langkah Trump ini disambut beragam oleh pelaku pasar dan komunitas internasional. Di satu sisi, penangguhan ini memberi ruang dialog dan negosiasi yang lebih sehat. Di sisi lain, banyak pihak menilai kebijakan ini masih menyisakan ketidakpastian karena bersifat sementara dan bisa berubah tergantung dinamika hubungan bilateral.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan segan-segan untuk kembali memberlakukan tarif tinggi jika tidak ada kemajuan nyata dalam upaya memperbaiki neraca dagang yang timpang. Ia menyebut praktik manipulasi perdagangan selama ini telah merugikan Amerika, dan negara mitra dagang harus turut bertanggung jawab memperbaikinya.
Sebagai kelanjutan dari kebijakan ini, Departemen Perdagangan AS dijadwalkan akan melakukan evaluasi berkala terhadap masing-masing negara yang masuk dalam daftar penangguhan untuk menilai komitmen mereka dalam menyelesaikan isu-isu perdagangan dengan AS.
Kebijakan penangguhan ini juga menandai upaya terbaru Trump dalam menyeimbangkan strategi tekanan dan diplomasi dalam agenda ekonomi luar negerinya. Dengan memberi waktu tambahan bagi negara mitra, pemerintah AS berharap bisa menghindari eskalasi perang dagang yang berisiko terhadap pemulihan ekonomi global.



















